Not-so-happy at Phnom Penh

9 Jun

Who are we, have the right to kill our own kind just because we don’t have the same ideology? Who are we? Damn, I got emotional in this place.

@achiedz. Wed, 20 Mar 2013. 11.03 AM

Diatas adalah tweet gue pas di Phnom Penh. Tweet itu gue tulis setelah mengelilingi tempat bernama The Killing Fields of Choeung Ek. Di tempat ini ribuan warga Phnom Penh saat itu dibunuh dan dikuburkan massal oleh pasukan Khmer Merah (Khmer Rouge) yang dipimpin oleh Polpot.

Asli gue ga nyangka bahwa genosida yang dilakukan oleh Polpot ini begitu sadis dan mengingat bahwa Polpot ini adalah warga asli Kamboja. Tega membunuh sesamanya bahkan keluarganya jika mereka tidak sepaham dengannya. Anak kecil termasuk bayi pun tidak luput dari kekejaman Polpot. Bahkan biar cepet melenyapkan mereka, bayi-bayi tersebut dipegang kakinya dan diayun ke arah pohon (foto ke-7 di kolase foto) agar kepalanya pecah dan isi kepalanya berhamburan. Tuhan… Gue gak tahan untuk gak nangis ditempat itu. Apa salah anak-anak itu? Apa salah orang-orang itu hingga hidupnya berakhir tragis??

Tiga juta dari delapan juta warga Kamboja dibunuh saat era kekuasaan Polpot. Kebayang gak sih nyaris 50% warga suatu negara dihabisi hanya karena “beda ideologi”?? Gue gak habis pikir dan pada akhirnya gue juga males mikirin ini. Orang sakit jiwa jangan pernah dimengerti deh. Bisa ikutan sakit jiwa! *masih-emosi-pas-ngetik-ini*

Di Killing Fields ini kita diberikan fasilitas untuk napak tilas apa yang terjadi pada saat tempat ini digunakan oleh Polpot untuk genosida. Yang gue suka dari fasilitas diberikan adalah alat rekam yang disewakan untuk digunakan oleh pengunjung, mengetahui sejarah Killing Fields ini. Ada plang nomor dari 1 hingga 18 (kalau tidak salah inget ya hehe) disekitar area ini, kita tinggal menekan nomor yang sesuai di alat rekam. Oh iya alat rekam ini tersedia dalam berbagai bahasa, sayangnya tidak ada Bahasa Indonesia. Paling dekat adalah bahasa Melayu.

Kita diharapkan untuk menghormati tempat ini. Tidak membuat suara yang berisik, bahkan disediakan tempat duduk agar kita lebih nyaman mendengar cerita dari alat rekam tersebut. Bagaimanapun ini adalah pemakaman. Emangnya lo mau berisik di pemakaman Tanah Kusir atau Karet?

Kolase Choeung Ek - Phnom Penh

Kolase Choeung Ek – Phnom Penh

Di sini gue berasa eneg banget. Rasanya koq beda banget dengan apa yang gue rasakan di Siem Reap. Kalau sebelumnya gue terkagum-kagum dengan keagungan masa lalu dari Kamboja, disini gue jijik membayangkan masa lalu Kamboja. Bukan jijik terhadap penduduknya, tapi kekejaman ideologi suatu kelompok manusia yang merasa paling benar. Tangis dan mual, kombinasi yang gak banget buat gue.

Kayaknya gue gak belajar dari trip-trip sebelumnya, mustinya nge-Wiki sebelum ke tempat wisata. Ternyata penderitaan gue belum berakhir di Killing Fields, kami menuju Tuol Sleng.

Apa sih Tuol Sleng ini? Kalau dalam dokumentasi resmi, ini sekolah tingkat atas dulunya. Tapi Khmer Merah merubah tenpat ini jadi penjara, tempat sementara sebelum para tahanan dibawa ke Killing Fields. Disebut juga sebagai Security Prison – 21. Makanya sering tertera Tuol Sleng S-21. Tuol Sleng ini salah satu dari lebih dari 150 penjara yang didirikan oleh Khmer Merah selama era kekuasaan mereka. Sekitar 20ribu orang meninggal mengenaskan disini.

Aura tempat ini sungguh mengganggu batin gue. Tiap ruangan yang gue masukin disini adalah ruang siksa. Bahkan  ada ilustrasi di didinding tiap ruangan,entah siapa yang berani mengilustrasikan bagaimana korban tahanan tersebut disiksa. Atau itu foto beneran, gue ga pernah dan mau tahu.

Baru di lantai pertama, gue udah berasa mual dan lemes pawwah. Sampai akhirnya gue duduk dan minum air putih untuk menenangkan diri sebelum lanjut. Donal dan Ojie lanjut sampai ke lantai tiga gedung tahanan ini. One thing for sure, happyness is gone from our minds.

Ada empat gedung di komplek Tuol Sleng ini yang bisa lo kelilingin sampai lo muak. Seriously, i get angry at first but at the end i feel so bitter and sick  about what happened there. Especially when i enter the last building and there were pictures of the victims. It is horrifying.

Ini terjemahan bahasa Inggris dari peraturan di S-21 (gambar tengah kolase dibawah).

1. You must answer accordingly to my question. Don’t turn them away.

2. Don’t try to hide the facts by making pretexts this and that, you are strictly prohibited to contest me.3. Don’t be a fool for you are a chap who dare to thwart the revolution.

4. You must immediately answer my questions without wasting time to reflect.

5. Don’t tell me either about your immoralities or the essence of the revolution.

6. While getting lashes or electrification you must not cry at all.

7. Do nothing, sit still and wait for my orders. If there is no order, keep quiet. When I ask you to do something, you must do it right away without protesting.

8. Don’t make pretext about Kampuchea Krom in order to hide your secret or traitor.

9. If you don’t follow all the above rules, you shall get many lashes of electric wire.

10. If you disobey any point of my regulations you shall get either ten lashes or five shocks of electric discharge.

………………………………..

I loathe Khmer Rouge, i do.

Tuol Sleng S-21, Phnom Penh

Tuol Sleng S-21, Phnom Penh

Gue cerita pengalaman selama di Phnom Penh, bukan untuk bikin lo merasa horror ataupun enggan kesana. Di satu sisi, gue melihat bahwa masa lalu yang bobrok dari Kamboja ini bisa dikomersialkan. Ya, ga boong klo tempat ini lah yang menarik banyak turis termasuk gue untuk datang ke Phnom Penh. Sisi lainnya, selain komersial – pemerintah disana secara serius mau terus terang atas kekejaman pemerintahan sebelumnya. Tidak ditutup-tutupi apalagi di rekayasa. It is a good reminder, not only for Cambodian but all of us who visited this place, that human can be so cruel. Even crueler than unseen creatures.

If you know what i mean…

Achied

Advertisements

2 Responses to “Not-so-happy at Phnom Penh”

Trackbacks/Pingbacks

  1. One of the best trips: #KambojaYuk | Fakir Liburan - June 9, 2013

    […] Not-so-happy at Phnom Penh […]

  2. TRAVELoscope: 2013 | Fakir Liburan - December 30, 2013

    […] Not-so-happy at Phnom Penh […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: