Sawah Lunto, trying-not-to-be-forgotten city

19 Feb

“Soal itinerary, gue sebenarnya oke dengan itinerary yang pernah dibikin Fendry dulu, KECUALI hari pertama.. gue tetep nggak mau ke Pulau Sikuai.. 🙂 Sebagai gantinya gue trip sehari ke Sawahlunto, itu kawasan kota dengan wisata alam dan budaya (ada goa tambang, museum KA, museum gudang ransum, dll)”

Diatas adalah sepotong paragraf yang ditulis Dinoy dari e-mail berbalas diantara anggota trip ke Sumatera Barat (SumBar), Januari 2013 yang lalu. Pas baca e-mail ini, otak dan daya ingat gue mendadak disuruh kerja keras.. Wait, Sawah Lunto. What is happening with Sawah Lunto?

…shyt, Sawah Lunto…Sawah Lunto… *ohiya, gue lupa googling aja loh. NGOK!*

Whalaw, itu kan kota tambang batu bara, Ombilin teaaa!

Ish bangga banget gue bisa inget secuil pelajaran sejarah jaman sekolah dulu. :’)

Karna secuil ingatan itu, gue makin bersemangat mau tahu lebih banyak tentang kota ini. Dan gue setuju banget sama Dinoy, i’ll skip Sikuai island for this Sawah Lunto. Oh well, itu karna gue uda pernah ke Sikuai juga sih sebelumnya. Mwehehehe! *toyor kepala sendiri*

Kami berangkat ke Sawah Lunto dari arah Bukittinggi dan itu sudah hari ketiga dari rencana empat hari perjalanan kami di SumBar. Dari Bukittinggi, kami mampir di Istana Pagaruyuang terlebih dahulu. Nah disini kami sempat galau, apakah kami akan tetap ke Sawah Lunto atau ke Danau Singkarak lalu ke kota Padang. Supir sekaligus guide kami disana tidak merekomendasikan kota ini “Nyaris tidak ada apa-apa disana. Hanya kota bekas tambang.” Tapi entah kenapa atau kesambit apa, kami kekeuh berangkat ke Sawah Lunto.

Waktu mulai masuk ke kota ini, ada tulisan Sawah Lunto ala Hollywood hills di Los Angeles nun jauh disana. Walau dalam versi KW kamvret juga sih sangking ciliknya. Duh bapak/ibu Pemda setempat, tolong atuh tulisannya digedein biar tjakeup dipoto-poto kitu. -____-

Tulisan Sawah Lunto di bukit

Tulisan Sawah Lunto di bukit

Tiba disana sudah sore hari sehingga kami hanya bisa menyambangi tiga tempat dari rute wisata budaya yang kami sudah browsing di Google sebelumnya.

Sawah Lunto's Heritage Trail

Sawah Lunto’s Heritage Trail

Patung Diorama di Lubang Mbah Suro

Patung Diorama di Lubang Mbah Suro

Gudang Ransum, Sawah Lunto.

Gudang Ransum, Sawah Lunto.

Bok kebayang gak sih masak pake dandang segeda itu? >.<

Bok kebayang gak sih masak pake dandang segeda itu? >.<

Sayangnya ditempat terakhir pun yaitu Museum Kereta Api Sawah Lunto, sudah keburu tutup saat kami tiba disana. 😦

Museum Kereta Api di Sawah Lunto

Museum Kereta Api di Sawah Lunto

Melihat jalan rayanya yang kecil dan memang ukuran kota-nya pun termasuk mini bahkan dibandingkan dengan Bukittinggi, ini kota koq rasanya gue banget gitu. Udaranya enak, jalannya ga ribet dan terlihat tenang sekali. Dialek berbicara orang disini pun tidak sama dengan orang di Padang maupun Bukittinggi, lebih tidak kentara aksennya.

Salah satu jalan utama di Sawah Lunto. Sepi ya? : ))

Salah satu jalan utama di Sawah Lunto. Sepi ya? : ))

Di kota ini kami menginap di rumah salah satu penduduknya,yang biasa disebut Homestay. Nia, salah satu anggota trip kami, telah booking homestay melalui homestaysawahlunto.blogspot.com dengan harga yang cukup menggoda. Untuk non-ac kena Rp 150rb untuk berdua dan AC kena Rp 200rb untuk berdua. Sarapan sudah termasuk. Cihuy kan?

Ada sedikit kejutan saat kami diantar ke rumah penduduk dimana kami akan tidur malam itu. Ternyata letak rumahnya sedikit diatas bukit alias jalanannya nanjak cyin! Mobil sewaan kami pun agak kesusahan saat harus mengantar kami. Sempat terselip khawatir “Waduh, malam mingguan di rumah aja ni naga-naganya.” Karna gak mungkin gue juga mau turun jalanan curam dan pulangnya peer lagi, nanjak cyin! Yuk marih!

Benar serasa dikamar sendiri. Zuper nyaman!

Benar serasa dikamar sendiri. Zuper nyaman!

Tapi kekhawatiran itu lenyap saat pemilik rumah yang kami panggil dengan sebutan ‘Oma’ berkata, “Ada mobil bak terbuka, kalau kalian berkenan bisa diantar oleh anak saya, Anton” Akkkk…Oma we loph u pull! Uda Anton…uwuwuwuuwuwuw!

Selamatlah kami dari lembah kesesatan jomblo-ngenes. Ya bok, uda jauh-jauh ngetrip ke Sawah Lunto ya masa cuma malam  mingguan di teras rumah sambil mandang langit yang mendung kelabu. Bintang dan bulan gak nongol cyin! =))

Err…setelah sekian lama, akhirnya gue naik mobil bak terbuka lagi. Dan ini sambil hujan-hujanan loh. Kami juga mengajak satu anggota baru, Tyo. Dia juga salah satu pejalan yang menginap di rumah Oma. Sayang kan dianggurin bocah ini, mending kita angkut aja keliling Sawah Lunto. Bagus kalau ada yang nyantol di hati juga sik. Eaaaakk!

Kami di mobil bak terbuka . : ))

Kami di mobil bak terbuka . : ))

Uda Anton yang ganteng dan baik hati juga super-keren-nyetir mobil bak terbuka, mengajak kami ke Bukit Cemara. Ternyata ini adalah tempat melihat pemandangan Sawah Lunto dari titik tertinggi yang ada dikota itu. Sayang cuaca kurang bersahabat saat itu, tapi untungnya Fendry membawa tripod dan dibantu oleh lampu mobil Uda Anton – maka kami bisalah foto-foto narsis sedikit disini. Sayang hasil foto gue buremmm alias goyangg… hiks!

Bukit Cemara, Sawah Lunto

Bukit Cemara, Sawah Lunto

Kelar dari Bukit Cemara, Uda Anton rupanya masih berbaik hati mengajak kami muter-muter kota Sawah Lunto. Mengingat ada enam dari kami duduk di bak terbuka, walhasil orang-orang di pinggir jalan melihat kami dengan aneh. Apalagi kami terlihat happy ketawa-ketawa bodoh bahkan Nia sempat dadah-dadah ke orang-orang tersebut. Random abis! =D

Setelah muter dari ujung ke ujung, Uda Anton mengajak kami nongkrong asik di tempat paling hits di Sawah Lunto. Semacam plaza didepan kantor Ombilin diisi dengan tenda-tenda penjual makanan dan ada juga tenda tempat dimana band bermain. Lumayan nih ada hiburan gratis dan makanan enak. Mumpung hujan dan gak tau mau ngapain lagi sih. X))

Malam minggu di Sawah Lunto

Malam minggu di Sawah Lunto

Menjelang tengah malam, kami pun kembali ke rumah Oma untuk beristirahat. Tapi berhubung gue emang ga bisa tidur sebelum jam 12 malam, akhirnya gue duduk-duduk diteras rumah Oma. Enak dan damai banget ih, cuma ada suara jangkrik dan rintik hujan. Ahh debesss… Tidak lama Uda Anton, Tyo dan Fendry pun bergabung dan obrolan ngalor ngidul (beneran ngobrol yaaa…) pun bergulir.

Gue baru tahu dari Uda Anton bahwa terbentuknya kota Sawah Lunto ini agak beda dengan kota-kota lain di SumBar. Kalau di Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Padang dan Solok…kotanya terbentuk karena ada komunitas orang Minang disitu. Sedangkan Sawah Lunto terbentuk karena ada tambang batu bara di abad 19. Kota ini terbentuk karena banyak pendatang yang dibawa oleh tentara Belanda untuk menjadi pekerja tambang batubara. Banyak pendatang itu dari pulau Jawa. Jangan heran melihat profil orang Sawah Lunto mirip dengan orang di pulau Jawa. Karena ada tambang, pekerjanya yang berkeluarga akhirnya beranak pinak disini dan membentuk komunitas lalu berbentuk kota pada akhirnya.

Karena kota ini bentukan baru, maka mereka terbiasa dengan perbedaan profil, suku bahkan agama. Di Sawah Lunto ini gue bisa lihat ada gereja, klenteng dan masjid berdekatan. Menurut Uda Anton, nyaris tidak ada gesekan budaya maupun agama di kota ini. Mereka sudah terbiasa dengan perbedaan. Ah senang mendengarnya. :”)

Kota ini tergolong kecil loh..penduduknya saja hanya 52.457 orang di tahun 2005 atau sekitar 191 orang per kilometer persegi. Bok, Bintaro aja lebih rameeee! X))

Tadinya nih tadinyaaa…mau bangun subuh terus lihat sunrise dari Bukit Cemara, tapi emang dasar kami semua kebo…ga ada yang bangun satu pun! Bwahahhaha… Tapi kami memang butuh istirahat cukup karna hari minggu itu kami akan menuju Padang dan penerbangan pulang kami masih jam 10 malam. Jadi kudu simpen energi banyak-banyak deh.

Sebelum kami berangkat ke Padang, kami sarapan bersama dulu yang telah disediakan oleh Oma. Sudah tidur berasa di kamar sendiri, dilayanin jalan-jalan ibarat keluarga sendiri dan dikasih makan pulak….ah nikmat dunia mana lagi yang kami dustakan? :’)

Bersama Oma dan Uda Anton. xoxo

Bersama Oma dan Uda Anton. xoxo
credit: Fendry Mappariza http://mappariza.wordpress.com

Terima kasih untuk Oma dan Uda Anton yang telah menerima kami dengan tangan dan hati terbuka untuk kami. Walaupun cuma 15jam kami habiskan bersama mereka, tapi seperti sudah kenal lama dan akrab. Huhuhu…sedih deh kenapa ya cuma menginap satu malam di Sawah Lunto??

Mungkin untuk beberapa orang, kota ini hanya dianggap bagian dari sejarah. Buat gue, kota ini menyimpan banyak cerita dan tempat baru yang siap ditemukan dan diceriterakan kembali.

Dengan slogan kota wisata budaya, semoga semakin banyak orang datang ke Sawah Lunto untuk mengenal lebih jauh kota yang selalu ada tercantum di buku sejarah anak Sekolah Dasar di Indonesia ini.

Jadi kapan ke Sawah Lunto? Jangan lupa ajak gue ya! 🙂

Cheers,

Achied

Advertisements

6 Responses to “Sawah Lunto, trying-not-to-be-forgotten city”

  1. Halim Santoso February 20, 2013 at 9:02 AM #

    Hayukk ke Sawah Lunto…. *browsing tiket murah*
    Tapi kenapa nggak muncul foto-foto perjalanannya?

    • achiedz February 20, 2013 at 10:34 AM #

      Halim Sannn.. iyaa lupa upload foto2nya mwahahaha.. snagking siwer nge-blog tengah malam. =D
      Nanti di update lagi yaa…

      Trims uda mampir! 🙂

      • Halim Santoso February 20, 2013 at 10:42 AM #

        Ditunggu foto-fotonya kakak… #senyumsokimut 😉

  2. johanesjonaz February 20, 2013 at 9:32 AM #

    to be continued ya? #mohon ijin follow

    • achiedz February 20, 2013 at 10:35 AM #

      Hi Johanes,
      Will be continued with pictures yaa… hehe lupitaaaa upload euy!

      Trims sudah mampir dan follow ya. 🙂

Trackbacks/Pingbacks

  1. TRAVELoscope: 2013 | Fakir Liburan - December 30, 2013

    […] Sudah lama sekaliiiii semenjak gue mengunjungi propinsi Sumatera Barat terakhir kali. Dan di akhir tahun 2012, Tiger Airways yang mengakuisisi Mandala bikin promo edun, tiket PP Jakarta – Padang hanya Rp 60ribu saja! Itu adalah harga termurah yang pernah gue bayar untuk tiket pesawat. Bukittinggi, Sawah Lunto, Solok, dan Padang adalah kota yang kami sambangi selama 4 hari penuh disana. I’m in love with Bukittinggi and Sawah Lunto! Here’s one of my story at Sawah Lunto: https://fakirliburan.wordpress.com/2013/02/19/sawah-lunto-trying-not-to-be-forgotten-city/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: